Sabtu, 28 April 2012

pencernaan usus


Pencernaan dalam usus
1.       Karakteristik usus halus
Dalam usus terjadi proses pencernaan akhir, artinya semua zat yang masih bermolekul ganda atau masih berantai panjang akan dirombak menjadi zat yang labih sederhana yang umumnya bermolekul tunggal. Zat ini baru akan diabsorbsi dalam usus. Dalam proses ini jejunum. Doedenum dan ileum mempunyai fungsi yang hamper sama. Sedikit perbedaan ialah pada jumlah kelenjar yang terdapat didalam bagian2 usus halus tersebut. Sepanjang usus halus terdapat banyak kelenjar  Brunner yang terletak pada puncak kelenjar mucosa. Pada bagian ujung belakang jejunum, semakin ke belakang semakin jarang, sehingga akhirnya pada ujung belakang ileum sangat jarang.

Didalam doedenum berbagai zat makanan yang bebrbentuk “chime” dicampur dengan bahan-bahan yang berasal dari kelenjar pancreas dan empedu. Didalam duodenum terjadi proses netralisasi asam lambung dan proses pengaturan keseimbangan air dengan elektrolit antara lumen usus dengan dinding sel usus sehingga absorbs Fe, Ca, glukosa dan asam-asam amino dapat diselenggrakan dengan lancer.

Jejunum mempunyai sifat yang khas yaitu adanya lipatan-lipatan kerkring yang disebut valvulae conniventes. Bagian ini merupakan bagian terpenting dalam pasai chime sepanjang usus, karena lipatan kerkring ini merupakan tonjolan halus (villi) yang dalam keadaan normal bergerak menyapu kearah belakang. Dengan adanya lipatan ini maka permukaan usus menjadi 3x lipat sehingga proses absorbs sangat efisien. Di dalam jejunum zat makanan dibuat homogen dan dicampur dengan enzim usus halus, sehingga zat makanan siap serap lebih banyak. Dalam bagian ini diabsorbsi glukosa, asam amino dan lemak.

Ileum ileum mempunyai sifat lain yakni mempunyai daya peristaltic yang kuat seperti gerakan cacing dan membentuk segment-segment. Segment2 ileum dapat melebar dan menyempit sehingga chime usus menjadi homogeny dan lebih didorong ke belakang. Dalam bagian ini diabsorbsi vitamin B12, asam empedu, dan sisa2 asam amino dan lemak yang belum terserap. pH sepanjang usus berbeda-beda karena bervariasinya sekreta yang masuk ke dalam lambung dan usus dank arena bakteri dan colon sering masuk ke dalam usus halus dan mempengaruhi reaksi kimia dalam usus.

Mukosa usus seperti dikemukakan sebelumnya terlibat dalam sekeresi cairan usus dan absorbs zat makanan. Ciran yang dihasilkan oleh usus disebut “succus entericus” yang diproduksi oleh kelnjar2 usus yang bertebaran sepanjang usus dan submukosa dalam doedenum. Cairan usus disekresikan karena adanya rangsangan sebuah hormone yang disebut enterocrinin. Kelenjar2 yang terdapat dalam mukosa usus antara lain crypt of liberkuhn dan kelenjar Bruner. crypt of liberkuhn terdiri atas sel epitel, sel mucus, dan sel paneth yang mengasilkan sekreta yang berisi enzim dan hormone. Sel-sel epithel pada villi terdiri atas sel-sel berbentuk tiang (columnar) mempunyai pinggiran berbulu-bulu dan mengandung sel-sel goblet yang mensekresikan mucus. Fungsi mucus dalam usus yaitu untuk melindungi usus ialah untuk melindungi usus dari gesekan dengan bahan yang keras hamper serupa fungsi oli dalam suatu motor gerak. Sel-sel mukoss usus selalu mengalami keausan, sehingga diperbarui melalui proses mitosis. Pada saat terjadi pembaharuan, maka sl-sl lama crypt of liberkuhn secara kontinyu bermigrasi dari dasar crypt menuju permukaan Karen terdesak sel baru dari dasar mukosa. Kelenjar Bruner terdiri atas sel-sel yang hamper sama dengan sel-sel parietal dan sel-sel peptic dalam lambung.

Dalam proses absorbs yang sangat berperan adalah adsnya villus yang merupan unit struktur dalam proses absorbs. Vili ini terdapat hamper diseluruh dari bagian-bagian dari unit deudenum dan sangat jelas. Selain itu terdapat pula dibagian proximal atau bagian depan jejunum dan semakin kebelakang semakin berangsur semakin bekurang sampai akhirnya sangat jarang pada ileum. Di dalam doedenum vili ini berbentuk claver dan dalam jejunum berbentuk jari.

Setia villus ditutup oleh sel-sel epithel yang diantaranya terdapat sel-sel goblet. Villi dipisahkan dari crypt of liberkuhn dibagian dasr oleh sel-sel Peneth. Sel-sel paneth berisi granula-granula sekretori. Yang disebut argentaffine. Sel-sel ini erat kaitanya dengan metabolism serotonin. Setiap villus mengandung satu arteriola dn satu venula dan saluran limfatik yang di sebut lacteal.


2.       Cairan usus dan fungsi fisiologisnya.
Salah satu karakteristik usus halus adalah menghasilkan cairan yang disebut dengan succus entericus yang mempunyai fungsi fisiologis mencerna, menjaga usus halus dari gesekan dan menentukan pH, konsistensi dan laju makanan dalam usus. Di dalam cairan ini terdapat sejumlah hormone, enzim dan cairan lain antara lain caiaran kental semacam pelican yang disebut mucus, selain itu terdapat banyak elektrolit (chloride, bikarbonat, fosfat).

3.       Hormone usus dan fungsinya
Usus halus telah diketahui mensekresiakan banyak hormone pencernaan. Diantara sejumlah hormone yang telah diketahui, beberapa buah sudah dapat dimurnikan, bahkan telah di sintesis untuk keperluan pengobatan. Percobaan2 engan hormon murni ini telah mengungkapkan berbagai fungsi-fungsi hormon2 tersebut dalam proses pencernaan. Sapai saat ini hormone yang sudah diketahui disekresikan oleh kelenjar2 usus adalah enterogastrone, gastrin, sekretin, pancreozymin, cholecystoknin, duokrinin, villikinin, enterocrinin, saerulein, motilin dan beberapa lainnya yang masih merupakan hipotesis. Fungs hormone dari masing-masing hormone diatas secara garis besar adalah :
a.       Enterogastrone
Enterogastrone berfungsi menghambat gerakan apabila duodenum sudah banyak menerima makanan dari lambung, bila duodenum penuh, maka sejumlah hormone enterogastrone diproduksi. Hormone in masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Sebagian dari hormone tersebut sampai sel-sel lambung dan menghambat gerakan lambung, sehingga pemompaan makanan terhenti.


b.      Gastrin
Sesungguhnya gastrin adalah hormone yang dihasilkan oleh sel-sel yang disebut sel G yang terdapat pada dinding lateral kelenjar bagian antrum mukosa lambung. Namun usus halus juga ternyata menghasilkan hormone gastrin dalam jumlah yang cukup berarti.

c.       Sekretin
d.      Pancreozymin
e.      Cholecystokinin
f.        Duokrinin yang dibentuk dalam duodeneum yang diduga kerjanya menstimuler kelenjar brunner.
g.       Vilikinin yang menyebabkan kontraksi dan relaksasi villi.
h.      Enterocrinin yang menstimulir produksi cairan usus.


4.       Enzim usus
·         Amylase. Enzim ini merupakan enzyme amylase yang ketiga di dalam alat pencernaan setelah ptyalin dan amylase pancreas dan bekerja terhadap pati.
·         Enterokinase. Yaitu enzim yang berperan dalam mengaktifkan tripsinogen dan mengubahnya menjadi tripsin.
·         Peptidase termasuk aminopolypeptidase, dipeptidase, dan tripeptidase. Kesemuanya penting dalam memecah dalam bebrbagai persenyawaan peptide berasal dar degedrasi protein menjadi asam2 amino yang diserap usus. Enzim-enzim ini diduga dihasilkan oleh sel-sel paneth yang berada dilekukan2 usus (Crypt). Beberapa peptidase diduga diasilkan dalam epithel permukaan sel villi usus.
·         Lipase usus. Enzim-enzim seperti ini seperti halnya lipase pancreas umumnya merombak asam lemak panjang dari trigglyserida.
·         Disacharidase yang merombak disakarida menjadi monosacarida. Enzim ini terdiri dari 1) lactase yang merombak gula susu (aktosa) menjadi galaktosa dan glukosa. 2) sucrose yang merombak sucrose menjadi fructose dan glukosa.
·         Nukleutidase. Merombak nukleotidase menjadi nukleosida.
·         Nukleusidase. Merombak nukleusida menjadi asam-asam nukleat
·         Prolipase dan prolidase yang merombak prolin menjadi rantai-rantai pptida.

5.       Pencernaan dalam usus halus (duodenum)
Masuknya makanan ke duodenum dirangsang oleh factor-faktor : penuhnya lambung dan kosongnya duodenum. Dalam duodenum terjadi pencernaan secara mekanik oleh gerakan duodenum dan secara kimiawi oleh kerjaan enzim.
a.       Pencernaan secara mekanik dalam duodenum
Gerakan mencerna makanan yang terjadi dalam duodenum maupun lambung diperlukan untuk mencampur makanan dengan enzim dan menggerakan makanan dengan saluran pencernaan. Gerakan tersebut berupa 1) gerakan peristaltic atau berupa gerakan mendorong makanan. 2) gerakan mengaduk yang dibedakan antara lain : gerakan segmentasi: gerakan yang membuat penyempitan beberapa tempat. Gerakan peristaltic lemah : terjadi gerakan tetap tidak sampai mendorong makanan dengan cariran usus. Gerakan pendulum: makanan didorong ke satu arah kemudian dikembalikan lagi kearah sebelumnya (bolak balik)

b.      Pencernaan enzimatik dalam duodenum
Dalam melakukan aktifitas pencernaan, maka usus halus mendapatkan sekresi zat pencerna makanan dari :
·         Pancreas. Enzim yang dihasilkan pakreas adalah amylase (untuk menghidrolisa amilum menjadi maltose) protease (menghidrolisa protein menjadi asamasam amino) lipase (mencerna lemak menjadi asam gliserol). Sedangkan koenzim yang dihasilkan pancreas adalah tripsinogen, khemotripsinogen dan prokarboksipeptidase.
·         Hepar atau hati. Berfungsi sebagai filtrasi makanan, mampu mengatur proses pencernaan enzimatik, khususnya jika terjadi proses metabolism di dalam sel-sel yang terdapat dalam tubuh. Apabila sel yang ada dalam tubuh kurang maka hatilah yang mengkoordinasi makanan agar  bias disuplai untuk mngurangi kekurangan tersebut. Di dlam ahati juga terdapat organ lain yang dapat melskukan aktifitas pencernaan waluapun secara tidak langsung. Organ did lam hati tersebut adalah kantung empedu yang mampu menghasilkan cairan empedu. Cairan empedu merupakan zat kimia berwarna kuning antara lain mengandung Na+, K+. oleh karena itu kandungannya berupa garam inilah maka cairan ini disebut cairan garam empedu. Fungsi garam empedu adalah memperepat kerja lipase dalam mencerna lemak.

6.       Pencernaan dalam usus besar
Meskipun air yang diminum dan air yang terdapat dalam saliva serta caiaran gastrointestinlis sebagian besar telah diserap dalam usus besar masih banyak mengandung banyak air. Pada saat bahan makanan tertentu melewati kolon terjadilah absorbsi cairan. Sehingga apabila beban makanan tersebut melewati colon dalam waktu singkat maka kolon tidak sempat mengabsorbsi cairan lebih banyak dan feses yang keluar nantinya masih banyak mengandung airnya. Keadaan ini sering disebut diare, sebaliknya sembelit akan terjadi apabila bahan makanan terlalu lama tinggal di kolon.



Daftar pustaka :
  
Soeharsono. 2010. Fisiologi ternak.  Padjajaran. Bandung

Herwintono dan Imbang. 2002. Dasar fisiologi ternak. Fak.peternakan dan perikanan. Univ. Muhammadiah. Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar