Kamis, 22 Desember 2011

dasar nutris dan sistem pencernaan kambing


MAKALAH
DASAR NUTRISI DAN BAHAN PAKAN TERNAK
SISTEM PENCERNAAN RUMINANSIA
(KAMBING)

OLEH:
HAPPY APRILLIA MAHARDIKA
NIM : 105050107111016

Fapet Kementerian.jpg

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011

I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar belakang

Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan selama berada di dalam alat pencernaan. Saluran pencernaan memberi tubuh persediaan air, elektrolit, dan makanan yang terus-menerus. Hal tersebut dapat dicapai melalui pergerakan makanan melalui saluran pencernaan, sekresi getah pencernaan, absorpsi hasil pencernaan, air, dan elektrolit, sirkulasi darah melalui organ-organ gastrointestinal untuk membawa zat-zat yang diabsorpasi, dan pengaturan semua fungsi gastrointestinal oleh saraf dan hormonal. Semua makhluk hidup memerlukan makanan untuk kelangsungan kehidupannya. Makanan ini diperlukan untuk memberi energi yang diperlukan memelihara tetap hidup dan untuk, mempertahankan proses-proses tubuh seperti kontraksi otot dan lain-lain, sebagai bahan untuk membangun dan mempertahankan sel dan metabolisme, untuk pertumbuhan dan reproduksi, kebutuhan senyawa spesifik untuk pertahanan diri.
Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau merupakan ternak herbivora yang memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan ternak nonruminansia terutama unggas dan babi. System pencernaan ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat tinggi, oleh karena itu, ruminansia dapat mengkonsumsi pakan hijauan dalam jumlah yang banyak seperti vegetasi alami, hijauan introduksi, limbah pertanian dan limbah industri.
                                          
Ternak ruminansia mempunyai karakteristik khusus yaitu dengan lambung ganda, jika pada ternak unggas terdapat ventrikulus dan proventikulus, pada ternak babi, kuda, dan kelinci hanya terdapat satu lambung, sedangkan ruminansia mempunyai empat lambung yaitu rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Fungsi keempat lambung tersebut berbeda-berbeda.

Sedangkan pada umumnya saluran pencernaan ruminansia yang meliputi esophagus, usus halus, usus besar, rectum dan anus mempunyai fungsi yang sama dengan fungsi saluran pencernaan pada unggas, babi dan hewan non ruminansia.

B.     Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui anatomi saluran pencernaan ruminansia.





II.                TINJAUAN PUSTAKA


Ternak ruminansia seperti sapi, kambing, domba dan kerbau merupakan ternak herbivora yang memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan ternak nonruminansia terutama unggas dan babi. System pencernaan ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat tinggi, oleh karena itu, ruminansia dapat mengkonsumsi pakan hijauan dalam jumlah yang banyak seperti vegetasi alami, hijauan introduksi, limbah pertanian dan limbah industri (Harfiah, 2009).

Factor pembatas pemanfaatan limbah pertanian khususnya jerami padi sebagai pakan dalah rendahnya kandungan nutrient esensial, konsentrat yang tinggi dapat dapat mengakibatkan dominasi bakteri homofermentatif asam laktat dalam system rumen (Sharir, dkk ; 2008). Isi rumen sapi potong dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan bagi ternak kmbing, karena masih mengandung serat kasar lebeh dari 30% sehingga merupakan pakan sumber energy dan juga dapat mengurangi biaya pakan yang selama ini relatif mahal (Abdullah,2005).

Pangkreas merupakan organ tubuh istimewa yang berfungsi ganda sebagai kelenjar eksokrin dan endogrin, sebagai kelenjar eksokrin, pangkreas membantu dan berperan penting dalam system pencernaan denganensekresikan enzim-enzim pangkreas seperti amylase, lipase, tripsin (Adyane,dkk ;2001)

Ternak tuminasia (sapi, domba, kambing) memakan hijauan, dimana tanaman menyerap kobalt dari dalam tanah dan bakteri-bakteri yang ada didalam lambung(rumen) menggunakan kobalt dalam penyusunan vitamin B12. Kobalt dalam pakan domba dan sapi, dan biri-biri tidak membutuhkan vitamin B12 dari pakan, karena rumen, flora dapat mensitesis B12 tersebut (Arifin, 2, 2008)


Sistem pencernaan ruminansia pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak ruminasia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulo-rumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsi omasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadi penyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini disebutkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang (Hernawati, 2011)

Kapasitas total lambung. Pada hewan dewasa, esofageal tidak berfungsi pada keadaan pemberian makan normal. Oleh karena itu, baik air atau makanan akan lewat masuk ke retikulo-rumen. Akan tetapi, refleks penutupan tabung tersebut untuk membentuk saluran dapat dirangsang bahkan pada hewan dewasa, khususnya jika hewan tersebut diberikan minum lewat kran. Makanan akan diencerkan oleh sejumlah saliva encer, pertama-tama selama makan dan sekali lagi selama pemamahan (ruminasi). Jumlah saliva yang dihasilkan per hari adalah 150 liter pada sapi dan 10 liter pada domba. Isi rumen rata-rata mengandung 850-930 g air/kg, akan tetapi sering kali berada dalam dua fase yaitu fase cair di bagian bawah, dimana partikel makanan yang lebih halus akan tersuspensi, dan lapisan lebih atas yang lebih kering terdiri atas bahan padatan yang lebih kasar. Perombakan makanan sebagian dicapai melalui cara fisik dan sebagian dengan cara kimia. Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yang disebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi), untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali (proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kontraksi retikulo-rumen yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulo-rumen juga bermanfaat untuk pergerakan 5 digesta meninggalkan retikulo-rumen melalui retikulo-omasal orifice (Tilman, et al. 1982). Pada proses ruminasi, setiap bahan cair akan dengan cepat ditelan kembali, akan tetapi bahan kasar akan merangsang hewan untuk memamah, barang kali adalah rangsangan taktil pada epitel rumen anterior. Beberapa ransum khususnya yang mengandung sedikit atau sama sekali tidak mengandung bahan hijauan kasar, tidak akan menghasilkan rangsangan untuk memamah. Waktu yang dihabiskan untuk memamah tergantung pada kandungan serat makanan. Pada sapi yang merumput umumnya adalah sekitar 8 jam per hari, atau sekitar sama dengan waktu yang digunakan untuk merumput. Setiap bolus makanan yang dimuntahkan kembali ke mulut akan dikunyah 40 sampai 50 kali, yang berarti akan lebih banyak dikunyah selama memamah dibandingkan dengan ketika merumput atau makanan (Hernawati, 2011).















III.             PEMBAHASAN

Pencernaan makana adalah semua aktifitas alat-alat pencernaan dengan kelenjar-kelenjarnya untuk menjadikan suapaya makanan dapat diserap oeh usus dan mengeluarkan sisa-sisa pencernaan.
Kambing dan domba merupakan ternak herbivora yang memiliki sistem pencernaan yang berbeda dengan ternak nonruminansia terutama unggas dan babi. System pencernaan ruminansia dapat memanfaatkan pakan berserat tinggi. Kambing merupakan ternak yang mempunyai lambung ganda yaitu rumen, reticulum, omasum dan abomasum.
Dalam mulut terjadi proses mastikasi atau pengunyahan yang berfungsi untuk membuat makanan menjadi lebih kecil sehingga kerja enzim disaluran pencernaan lebih efektif dan juga  supaya makanan mudah di telan. Proses mastikasi dicampur dengan air liur atau saliva. Setelah itu pakan ditelan atau disebut dengan istilah deglutitasi. Makanan meleawati esophagus menuju rumen. Didalam rumen kemudian terjadi pencernaan fermentative. Setalah itu makanan dimuntahkan kembali atau yang disebut dengan regurgitasi dan terjadi remastikasi dan pembasahan makanan kembali oleh kelenjar saliva. Setelah pakan melewati esophagus menuju rumen dan masuk ke reticulum. Stelah itu pakan menuju omasum dan omasum.
Kemudian pencernan pakan seperti pada ternak nonruminansia lainnya. Di dalam usus halus pakan diserap kemudian ke colon untuk menyerap air, pakan yang tidak tercerna dibuang melalui rectum dan anus.
















IV.             KESIMPULAN



·         Kmbing dan domba erupakan ternak ruminansia
·         Ternak ruminansia mempunyai lambung ganda yaitu rumen, reticulum, omasum dan abomasums.
·         System pencernaan ternak ruminansia yaitu penceranaan secara mekanik yang terjadi di mulut, kemudian pencernaan fermentative yang terjadi di dalam rumen dengan bantuan mikroorganisme setelah pencernaan enzimatik di usus besar dan pencernaan fermentative lagi di colon.


















DAFTAR PUSTAKA



Abdullah, Sirajudin. 2005.  Pengaruh Berbagai Tingkat Isi Rumen Sapi Potong DalamKonsentrat Terhadap Bobot Komponen Karkas Kambing Peranakan Etawa. Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Vol.2 No.3

Adyane,dkk. 2001. Perbandingan Antara Mikroanatomi Bagian Endrokin Pankreas Pada Kambing dan Domba local Khusus Distribusi Dan Frekuesni Sel-sel Glukagon Pada Pankreas. Fakultas Kedokteran Hewan. IPB. Bogor. Vol.8 No.1
Arifin, Zainal. 2008. Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro Dalam Sistem Bologi Dan Metode
Analisisnya. Balai Besar Penelitian Veteriner. Bogor. Vol.27 No.3
Harfiah. 2009. Peningkatan Kualitas Pakan Berserat Dengan Perlakuan  Alkali, Amoniasi, Dan Fermentasi Dengan Mikroba Selulitik Dan Lignolitik. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar. Vol.9 No.2

Hernawati. 2011. Peranan Syaraf dan Hormon (Neuroendrokin) Dalam Pergerakan Lambung Pada Sistem Pencernaan Ruminansia. FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung

Syahrir, dkk. 2008. Efektivitas Daun Murbei Sebagai Pengganti Konsentrat dalam Sistem Rumen in Vitro. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian. Bogor. Vol.32 No.2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar