Kamis, 22 Desember 2011

protein pada babi


MAKALAH
ILMU NUTRISI NON RUMINANSIA
PROSES PENCERNAAN DAN KEBUTUHAN PROTEIN PADA BABI

OLEH:
ACHMAD SIDIQ (105050101111091)
CANDRA AYU PITALOKA (1050501111095)
HAPPY APRILLIA MAHARDIKA (105050107111016)

Fapet Kementerian.jpg

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
DAFTAR ISI

halaman
Kata Pengantar………………………………………………………………...

Daftar isi……………………………………………………………………….

I.
Pendahuluan………………………………………………………..


a
Latar belakang...…………………………………………………….


b.
Rumusan Masalah………………………………………………….


c
Manfaat dan Tujuan………………………………………………..

II.
Tinjauan Pustaka…………………………………………………...


a
Alat Pencernaan Babi....……………………………………………


b
Kebutuhan Protein untuk Babi........………………………………

III.
Pembahasan…………………………………………………………

IV.
Penutup……………………………………………………………..


a.
Kesimpulan ………………………………………………………...


b.
Saran………………………………………………………………..

Daftar Pustaka………………………………………………………………….







KATA PENGANTAR

        Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah tentang pencernaan protein pada babi untuk mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak Non Ruminansia ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.  Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas tersluktur.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.    Ibu Heli Tistiana, S.Pt, Mp selaku pembimbing mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak Non Ruminansia
2.    Semua pihak yang telah membantu dalam pelakanaan dan pembuatan paper ini.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangannya, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.  Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua, baik di masa sekarang maupun yang akan datang. Amin.



                                                                                                              Malang,     November. 2011
                              
                                                                                                                            Penulis



I.                PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ternak non ruminansia merupakan ternak yang tidak mempunyai lambung ganda seperti ternak ruminansia, ternak ruminansia mempunyai empat lambung yaitu rumen, reticulum, omasum dan abomasum. Ternak non ruminansia mempunyai perut yang sederhana atau bisa disebut hanya mempunyai satu saja. Babi termasuk hewan non ruminansia atau monogastrik yang sistem pencernaannya dimulai dari mulut, esofagus, lambung, usus halus, usus buntu, usus besar dan anus. Babi merupakan hewan omnivora yang pakannya berasal dari tanaman dan hewan.

Protein merupakan bahan pembentuk makhluk hidup, katalisator organic atau yang biasa disebut dengan enzim dan bagian penting dari nucleoprotein.Protein adalah sumber-sumber asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Sebagai zat pembangun, protein merupakan bahan pembentuk jaringan-jaringan baru yang sesalu terjadi dalam tubuh dan mempertahankan  jaringan yang telah ada.
Di dalam setiap sel yang hidup protein merupakan bagian yang sangat penting, pada sebagian besar jaringan tubuh, protein merupakan kompomen terbesar setelah air. Kekurangan protein dalam waktu lama dapat mengganggu proses dalam tubuh dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Bila protein dihidrolisa dengan asam, alkali, atau enzim akan di hasilkan campuran asam amino. Protein yang diserap oleh usus halus dalam bentuk asam amino.

B.  Rumusan Masalah




Rumusalah masalah yang diambil adalah :

1.               Sistem pencernaan  Babi
2.               Bagaimana proses pencernaan dan penyerapan protein pada Babi
3.               Berapa kebutuhan protein untuk Babi


C. Manfaat dan Tujuan
Makalah ini dibuat bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana proses pencernaan dan penyerapan protein pada Babi.




















II.                TINJAUAN PUSTAKA

A.    Sistem  Pencernaan Pada Babi

Sistem pencernaan babi terdiri dari mulut, esofagus, lambung, duodenum, ileum, sekum, rektum dan anus (Zamillah, 2010). Mulut adalah tempat dimana pakan pertama kali memasuki sistem pencernaan. Disini terjadi pemecahan secara mekanis dimana pakan dikunyah dan dipecah menjadi berukuran lebih kecil dengan menggunakan gigi. Air ludah atau saliva yang diproduksi dalam mulut berfungsi melembabkan dan melunakan pakan (Murwani, 2009). Menurut Zamillah (2010) perbedaannya pada babi saliva mengandung enzim yang mulai memecahkan bahan pakan menjadi unsur-unsur penyusunnya. Babi tidak terjadi proses memamah biak sebab seluruh bahan pakan telah dikunyah halus sebelum ditelan. Saliva juga mengandung enzim amylase yang mulai memecah pati (karbohidrat) dalam pakan. Lidah dalam mulut membantu mendorong makanan masuk ke kerongkongan atau esophagus (Murwani, 2009).

Pakan yang ditelan bergerak menuju esofagus kemudian masuk ke dalam lambung (Zamillah, 2010). Kontraksi otot mendorong makanan ke lambung, di akhir kerongkongan terdapat   katup yang disebut “cardiac valve” yang memecah kembalinya makanan yang telah sampai di lambung ke kerongkongan (Murwani, 2009).

Lambung merupakan kantung yang terdapat dalam rongga perut yang terpisah dari rongga thorax oleh diafragma (Soeharsono, dkk : 2010). Lambung adalah tempat dimana asam clorida atau HCL yang dikeluarkan oleh sel-sel dinding lambung. Penambahan asam klorida pada makanan menyebabkan terjadinya pemecahan ikatan kimia di dalam makanan dan terbentuknya partikel-partikel kecil karbohidrat, lemak dan protein. Ada sedikit dari partikel ini yang diabsorbsi di lambung dan diangkut oleh darah. Partikel ini menuju usus halus melalui katup yang melalui “pyloric valve” (Murwani, 2009). Lambung pada babi juga berfungsi sebagai alat penampung bahan yang sudah tercerna. Volume lambung seekor babi hanyalah sekitar 8 liter (Zamillah, 2010).

Sel-sel di dinding halus mengeluarkan bebrbagai enzim yang membantu pencernaan dan menyerap hasil akhir pencernaan makanan. Usus halus dibagi menjadi tiga segmen yaitu doedenum, jejunum dan ileum. Di bagian pertama usus halus yaitu doedunum terjadi penambahan sekresi dari hati dan pankreas. Sekresi dari hati disimpan dalam empedu dan ditteruskan doedenum melalui saluran empedu. Sekresi ini adalah garam empedu yang membantu pencernaan lemak yarng terdapat dalam pakan. Sekresi dari pankreas disalurkan ke duodenum melalui saluran pankreas. Sekresi dari pankreas ini terdiri dari berbgai enzim yang membantu pencernaan karbohidrat, lemak dan protein. Sebagian besar penyerapan nutrien terjadi di jejunum dan ileum. Nutrien yang tidak tercerna memasuki usus besar melalui katup yang disebut “ileocecal valve” (Muwarni, 2009).
Caecum merupakan suatu kantung buntu (Soeharsono, dkk : 2010). Colon terdiri dari bagian-bagian yang naik , mendatar dan turun. Bagian yang turun berakhir direktum dan anus. Caecum mempunyai bantuk besar yang panjangnya kurang lebih 1,25 m dan kapasitas volumenya kurangn lebih 20-30 liter (60% dari jumlah volume seluruh alat-alat pencernaan). Caecum dan colon mempunyai fungsi seperti rumen pada ruminan yaitu tempat fermentasi serat kasar dan karbohidrat oleh mikroorganisme. Kolon besar mempunyai panjang kurang lebih 3-3,7 m, diemeter rata-ratanya 225 cm dan kapasitas volumenya kurang lebih dua kali caecum. Kolon kecil panjangnya sekitar 3,5 meter dan mempunyai diameter 7,5-10 cm. Colon merupakan tempat penyerapan air yang utama (Zamilla, 2010).

B.        Kebutuhan  Protein pada Babi

1 komentar:

  1. Apakah penambahan MOL organik pada pakan basah untuk babi dapat dilakukan, seperti fungsi rumen pada hewan ruminansia?

    BalasHapus