MAKALAH
ILMU NUTRISI RUMINANSIA
PEMBERIAN LIMBAH SINGKONG PADA TERNAK
RUMINANSIA
OLEH:
HAPPY APRILLIA MAHARDIKA
NIM : 105050107111016
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2011
BAB 1
A. Latar Belakang
Tanaman Singkong (Manillot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman pertanian utama yang mempunyai nilai sangat strategis, selain sebagai bahan pangan juga merupakan bahan baku industri, termasuk sebagai bahan bakar nabati, seperti etanol. Teknologi fermentasi dalam mengkonversi tepung singkong menjadi etanol sudah berkerbang, sehingga peran singkong sebagai salah satu surnber bahan bakar alternatif akan sangat signifikan seirama dengan peningkatan harga BBM di pasar global. Sarana seperti etanol yang dihasilkan dari tanaman pertanian lainnya, etanol dari bahan singkong dapat digunakan untuk mensubstitusi antara 10% - 25% bahan bakar pada kendaraan bermotor bermesin standard, dan bisa sampai 100% bagi mesin yang sudah diadaptasikan. Hal ini merupakan peluang untuk memberdayakan para petani bertanam singkong, mengingat tanaman singkong sangat mudah dibudidayakan bahkan di lahan kering dan miskin unsur hara.
Tanaman ini juga tahan terhadap serangan penyakit maupun tumbuhan pengganggu (gulma). Berdasarkan data statistik Indonesia, luas areal tanaman singkong sekitar 1.3 juta ha. Selain umbi, produksi daun singkong juga cukup besar yaitu 0,92 ton lahan bahan kering. Dengan demikian setiap tahun tersedia limbah berupa daun sekitar 1.2 juta ton yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan teknologi pelayuan, daun singkong dapat dibuat menjadi hay, untuk dipergunakan sebagai sumber pakan ternak sapi perah. Ditinjau dari segi nutrisi, kandungan zat gizi daun singkong lebih baik dari pada rumput gajah utamanya kandungan protein kasar (28.66% vs 13.13%). Selain kandungan protein yang tinggi kandungan pro vitamin A nya pun cukup tinggi. Bila setiap hari seekor sapi perah dewasa memerlukan 5 kg daun singkong untuk rnencukupi sebagian kebutuhan proteinnya, maka secara teoritis lirnbah daun singkong yang tersedia saat ini dapat mengakornodasi 600 ribu ekor sapi perah dewasa atau hampir dua kali lipat populasi saat ini. Sementara itu, ampas ubi (limbah) etanol juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber energi dengan ditambah suplemen mineral, utamanya sulfur.
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah yaini untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Ilmu Nutrisi Ruminansia.
C. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan di bahas yaitu apa kandungan daun singkong sehingga dapat digunakan sebagai pakan alternif pada ternak rumnasia, cara mengilangkan HCN atau racun pada daun singkong sehingga dapat dimanfaat sebagai pakan ternak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hasil ikutan tanaman ubi kayu sebesar 54,2% yang digunakan pangan dan sisanya sebesar 19,7% untuk bahan baku industri seperti tepung tapioka untuk pangan 1,8% dan industri penompang lainnya 8,5% serta 15,8% untuk ekspor. Hasil ikutan ubi kayu yang banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak adalah onggok dan gaplek akhir. Onggok merupakan hasil ikutan pengolahan agroindustri tepung tapiakoa yang jumlahnya 19,7% dari total produksi ubi kayu nasional (Rusdiana, 2011).
Berdasarkan statistik Indonesia (BPS 1991) luas areal tanaman singkong di Indonesia sekitar 1,3 juta ha. Selain produksi daun singkong juga cukup besar yaitu 0,92 ton/ha/thn bahan kering. Dengan demikian tanaman yang ada, setiap tahun tersedia limbah berupa daun sekitar 1,2 juta ton yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Daun singkong mengandung senyawa cianida (HCN) yang terdapat dalam getah, yang dalam keadaan alami berikatan dengan glukosida. Kandungan sianida dalam daun singkong bervariasi tergantung jenis singkongnya. Bagian kulit umbi mengandung HCN lebih tinggi dibandingkan dengan daunnya dan biasanya kandungan cianida pada daun muda lebih tinggi dibandingkan dengan daun singkong tua (Martindah dan Kusuma, 2007)
Anti nutrisi merupakan zat yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, tingkah laku atau penyebaran populasi organisme lain (allelochemic). Kehadiran anti nutrisi pada tanaman umumnya terjadi karena faktor dalam (intrinsic factor) yaitu suatu keadaan ketika tanaman tersebut secara genetik mempunyai atau mampu memproduksi anti nutrisi tersebut dalam organ tubuhnya. Zat-zat anti nutrisi alkaloida, asam amino toksik, saponin dan lain-lain adalah beberapa contohnya. Faktor lain adalah faktor luar (environment factor), yaitu keadaan di mana secara genetik tanaman tidak mengandung unsur anti nutrisi tersebut, tetapi karena pengaruh luar yang berlebihan atau mendesak, zat yang tidak diinginkan mungkin masuk dalam organ tubuhnya. Contohnya adalah terdapatnya Se berlebihan pada tanaman yang mampu mengakumulasi Se dalam bentuk proteinnya misalnya pada Astragalus sp. Juga unsur radioaktif yang masuk dalam rantai metabolik unsur yang kemudian terdeposit sebagai unsur-unsur berbahaya. Anti nutrisi umumnya sebagian besar diperoleh dari hasil metabolisme sekunder tanaman. Hasil metabolisme sekunder dibagi dua berdasarkan berat molekulnya, yaitu berat molekul kurang dari 100 seperti pigmen pirol, antosin, alkohol, asam-asam alifatik, sterol, terpen, lilin fosfatida, inositol, asam-asam hidroksi aromatik, glikosida, fenol, alkaloid, ester dan eter (Wahyu, 2011).
Adanya antinutrisi pada daun singkong menjadi kendala dalam pemanfaatan daun singkong sebagai bahan pakan ternak, karena asam cianida (HCN) dengan konsentrasi tinggi sangat beracun dan dapat mematikan ternak. Batas-batas toleransi keracunan pada sapi dan kerbau adalah 2,2 mg/kg bobot badan. Gejala klinis keracunan pada sapi adalah gelisah, berontak serta selanjutnya diikuti dengan tubuh melemah, kejang, sesak nafas dan berakhir dengan kematian (Martindah dan Kusuma, 2007)
Untuk menghindari terjadinya keracunan tersebut dapat dilakukan perlakuan baik fisik, kimia dan biologis. Pelayuan, penyimpanan dan beberapa proses lain mengurangi kandungan sianida daun singkong sehingga cukup aman untuk dikonsumsi ternak. Fermentasi dan pengeringan langsung dengan matahri dapat mengurangi kandungan sianida dalam daun singkong. Kadar sianida bisa berkurang sampai 90% dalam waktu penyimpanan selama 3 hari. Sianida tidak terdeteksi jika disimpan dalam waktu 5 hari pada suhu kamar dan telah dipanaskan dengan suhu 37o C selama 10 jam dalam oven. Penurunan kadar sianida akan lebih cepat bila daun singkong dipotong-potong. Pemanasan daun singkong dengan oven 37oC dapat diganti dengan pemanasan langsung sinar matahari (pelayuan), sehingga daun singkong aman digunakan sebagai pakan ternak. Disamping itu dengan penambahan unsur sulfur dan vitamin B12 juga dapat menurunkan kadar racun sianida (Martindah dan Kusuma, 2007).
Dengan pelayuan, daun singkong dapat dbuat menjadi hay sebagai sumber pakan sapi perah. Kandungan gizi daun singkong lebih baik daripada rumput gajah, utamanya kandungan serat kasar, lemak, kalsium dan energi. Selainn kandungan protein dalam daun singkong yang tinggi, kandungan pro vitamin A nya pun cukup tinggi.
Berikut merupakan kandungan kimiawi daun singkong dan rumput gajah yang disajikan dalam bentuk tabel.
Berikut merupakan kandungan berbagai varietas ubi kayu :
| Kandungan gizi | Ubi kayu putih | Ubi kayu merah | Ubi kayu kuning | daun |
| Kalori (kal) | 123,00 | 123,00 | 136,00 | 47,00 |
| Protein (g) | 1,8 | 1,80 | 1,10 | 2,80 |
| Lemak (g) | 0,70 | 0,70 | 0,40 | 0,40 |
| Karbohidrat (g) | 27,90 | 21,90 | 32,30 | 10,40 |
| Air (g) | 68,50 | 68,50 | - | 84,70 |
| Serat kasar (g) | 0,90 | 1,20 | 1,40 | - |
| Kadar gula (g) | 0,40 | 0,40 | 0,30 | - |
| Beta karotin | 31,29 | 174,20 | - | - |
berikut merupakan kandungan nutrisi ubi kayu secara kesluruhan :
| No | Zat makanan | Kandungan dari | |||||
| | Ubi verietas manis | Ubi varietas pahit | |||||
| | Umbi dengan kulit | Tanpa kulit | kulit | Umbi dengan kulit | Tanpa kulit | kulit | |
| 1 | Protein (%) | 2.71 | 2.58 | 5.29 | 2.38 | 1.66 | 14.69 |
| 2 | Serat kasar (%) | 3.09 | 0.43 | 2.97 | 1.95 | 1.60 | 15.63 |
| 3 | Lemak (%) | 0.53 | 0.46 | 1.18 | 0,65 | 0.65 | 8.39 |
| 4 | Abu (%) | 2.66 | 2.41 | 5.93 | 2.89 | 5.23 | 16.07 |
| 5 | BETN (%) | 91.1 | 94,12 | 66.63 | 92.12 | 90.86 | 45.22 |
BAB III
PEMBAHASAN
Ubi kayu merupakan tanaman tropis yang tumbuh pada semua musim. Produksi ubi kayu tetap tinggi walaupun ditanam pada tanah yang kurang subur, bahkan tanpa pemupukan sekalipun. Produksi ubi kayu bervariasi dari 13 sampai dengan 20 ton per hektar, namun dengan varietas baru dapat mencapai 40 ton per hektar. Bahkan di Lampung, varietas Adira yang diperbaiki dapat menghasilkan 50 ton per hektar. Produksi nasional ubi kayu di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun walaupun luas areal tanamannya cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh peningkatan produktivitas per hektar lahan. Produksi nasional ubi kayu Indonesia sebesar 10.9 juta ton pada tahun 1969, meningkat menjadi menjadi 16.6 juta ton pada tahun 1982 (meningkat 2 persen setiap tahun). Sedangkan luas areal tanam dari 1.47 juta hektar pada tahun 1969 mejadi 1.35 juta hektar pada tahun 1989 (turun 1.8% per tahun). Produktivitas ubi kayu meningkat 3.3 persen per tahun dari 7.4 ton per hektar tahun 1969 menjadi 12.6 ton per hektar pada tahun 1989. Peningkatan produktivitas ini terjadi tanpa campur tangan pemerintah baik dalam bentuk gerakan penanaman ataupun penyuluhan teknik budidaya dan introduksi bibit unggul.
Ubi kayu mengandung BETN yang sangat tinggi yaitu 91.01 sampai dengan 94.00 persen yang terdiri atas 80 persen pati dan 20 persen adalah gulagula sederhana. Pati dan gula-gula ini mudah dicerna oleh ternak sehingga dapat menghasilkan energi yang tinggi. Kandungan energi metabolis ubi kayu setara dengan umbi-umbian yang lain dan biji-bijian. Nilai energi metabolis ubi kayu rata-rata 85 sampai dengan 90 persen dari nilai energi bruto, sehingga ubi kayu merupakan sumber energi yang baik. Meskipun demikian ternyata ubi kayu mempunyai kelemahan apabila digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu berupa adanya zat anti nutrisi
glukosida sianogenik. Kelemahan lainnya adalah kandungan protein yang sangat rendah dan bentuk fisik ubi kayu yang kurang mendukung untuk pengolahan. Glukosida sianogenik dalam pencernaan membebaskan asam sianida (HCN), suatu anti nutrisi yang sangat toksik. Kandungan HCN ubi kayu bervariasi bergantung pada iklim, keadaan tanah, pemupukan dan yang paling menentukan adalah varietas. Berdasarkan kandungan HCN, ubi kayu digolongkan dalam dua varietas yaitu varietas pahit yang mengandung HCN lebih dari 100
gram per ton dan varietas manis yang mengandung HCN kurang dari 100 gram per ton. Beberapa varietas unggul dari ubi kayu yang tergolong dalam ubi kayu manis antara lain varietas valenca, gading, ambon dan varietas W-78 dan yang tergolong dalam ubi kayu pahit antara lain varietas SPP, Bogor, Muara dan varietas W-236. Penggunaan ubi kayu sebagai bahan pakan ternak dapat dilakukan dengan menggunakan dua macam ubi kayu yaitu ubi kayu tanpa kulit dan ubi kayu dengan kulit. Ubi kayu tanpa kulit menyebabkan daya cerna meningkat di samping ada peningkatan cita rasa dan pembebasan sianida. Ubi kayu tanpa kulit dapat menimbulkan jamur sacharomyces cerevisiae yang biasanya digunakan dalam pembuatan tape. Jamur ini menghasilkan enzim amilase yang dapat memutuskan ikatan-ikatan molekul pati menjadi gula-gula sederhana dan alkohol. Jamur sacharomyces cereviciae tidak dapat secara nyata meningkatkan kandungan protein ubi kayu karena sel-selnya tidak banyak menghasilkan protein. Bahan pakan ubi kayu tanpa kulit lebih baik dari pada ubi kayu dengan kulit karena mempunyai nilai nutrisi yang lebih baik dari bahan asalnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Limbah berupa daun sekitar 1,2 juta ton yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Daun singkong mengandung senyawa cianida (HCN) yang terdapat dalam getah, yang dalam keadaan alami berikatan dengan glukosida. Kandungan sianida dalam daun singkong bervariasi tergantung jenis singkongnya. Bagian kulit umbi mengandung HCN lebih tinggi dibandingkan dengan daunnya dan biasanya kandungan cianida pada daun muda lebih tinggi dibandingkan dengan daun singkong tua.
Untuk menghindari keracunan pada ternak akibat kandungan cianida pada daun singkong yaitu harus di lakukan pelayuan, atau penyimpanan selama 3-5 hari. Atau dipotong-potong.
B. Saran
Sebaiknya untuk mengemat hijauan seperti rumput gajah dan lain sebagainya itu perlu dilakukan dengan pemberian pakan alternatif seperti pemberian daun singkong atau pakan dari limbah industri yang lainnya. Nilai kandungan daun singkong lebih besar dari pada rumput gajah.
DAFTAR PUSTAKA
Martindah dan Kusuma. 2007. Pengembangan Peternakan Sapi Perah Terintegrasi dengan Industri Bio Etanol Berbahan Singkong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor
Rusidiana. 2011. Analisis Ekonomi Penggemukan Ternak Domba Jantan Berbasis Tanaman Ubi Kayu Di Pedesaan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor
Widodo, Wahyu. 2011. Pakan Ternak Unggas Kontekstual. Penebar Swadaya, Jakarta
ok cukup membantu teman... terimakasih salam kenal hendri dari politeknik negeri lampun....
BalasHapus